Pengantin Bekasi? Apa tuh?
Pengantin Sunda kan? Bukan? Kalau gitu pengantin Betawi? Pengantin Jawa--pasti nih, kan banyak orang Jawa di Bekasi... Kalau bukan juga, masa pengantin Barat atawa India? bisa juga sih, kan suka mejeng di Cikarang.
Bukan juga? Bukan semuanya?
Terus apa doooooonggggggg???????
.................................................................................................................................................................................................................................................
Mungkin banyak juga yang belum tahu, Bekasi yang sekuprit ini punya pengantin dengan ciri khas tersendiri. Dikatakan pengantin Sunda, bukan sama sekali. Pengantin Betawi, yah dibilang mirip memang mirip, tapi jelas ada ciri yang berbeda. Pengaruh Cina? Ada, dahulu kan banyak tauke Cina pegang saham tanah di Bekasi. Pengaruh Eropa jelas sangat memungkinkan untuk ada. Secara dari zaman baheula juga Bekasi sudah jadi melting pot, pengaruh mana-mana bercampur baur dalam satu kekhususan yang unik, tapi juga ditata apik.
Ini sejarah budaya Bekasi yang bicara, lho, jadi bukan bikinannya orang HARPI Melati.
Apa itu HARPI Melati? Saudara tirinya Harvey Malaiholo?
Ini bukan iklan sponsor. HARPI Melati, singkatan dari Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia "Melati" (HARPI itu singkatan jenis organisasinya, "Melati" itu nama yang diimbuhkan supaya cantik, gitu... kan Melati sangat identik dengan pengantin Indonesia dari berbagai suku...jadi bukan nama pelopornya dahulu...). Organisasi ini menaungi para perias pengantin, dalam suatu wilayah. Walau juga menaungi para perias pengantin modifikasi dan modern, sebenarnya HARPI ini wadah yang punya misi mulia memajukan tata rias tradisional.
Sama seperti strata kepengurusan organisasi pemerintahan, Harpi juga punya kepengurusan dari tingkat kabupaten/kotamadya hingga tingkat nasional, lho. Nah, yang kemarin lalu ini punya gawean Penggalian & Pembakuan Pengantin Bekasi ini adalah HARPI Melati Kabupaten Bekasi yang saat ini diketuai oleh Hj. Nurhaeti, S.Pd.I. Acara Pembakuan Tahap I diadakan tahun 2004, bekerja sama dengan Gabungan Organisasi Perempuan (GOP) Kabupaten Bekasi. Sedangkan Pembakuan Tahap II diadakan tahun 2007, bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi.
Penggalian ini berangkat dari kesadaran akan perlunya melestarikan warisan tradisi, ya tidak lain tidak bukan, adat pengantin Bekasi ini. Sekarang ini memang jarang sekali pengantin yang memakai adat Bekasi dalam hari agung pernikahannya. Sebagian besar ya memang karena bukan orang asli Bekasi--entah sensus aslinya berapa, tetapi mungkin sekali lebih dari 70 % persen penduduk Bekasi saat ini adalah warga pendatang, lebih malah, jika dihitung dengan keturunan campuran. Tapi memang di kalangan orang asli Bekasi sendiri, ada kecenderungan untuk meninggalkan warisan leluhur ini. Sebagian ya memang belum tahu, atau tidak tahu, dan sebagaimana layaknya masyarakat umum, lebih memilih adat Sunda, Jawa, atau bahkan gaya modern Barat atau India. Sebagian lagi mungkin menganggap ketinggalan zaman, kuno, bahkan norak.
Nah, sekarang ini kan memang ada trend untuk kembali mengenang masa lalu, melihat apa yang dibuat para leluhur kita, walau bukan dari zaman karuhunnya karuhun. Keren? Unik? Ya memang iya. Jadi, ayo kita lihat!!! Pengantin Bekasi...
Btw, tulisan selanjutnya diambil dari makalah orang aneh bernama Waridah Muthi'ah (yup, thatz me!!!!) yang aslinya dibuat untuk mata kuliah Kolokium Kria Tekstil yang diajar Bu Abe di Program Studi Kria Tekstil, Faultas Seni Rupa dan Desain ITB. Biar tu orang aneh, pikirannya kayak rute jalanan yang kusut dan belok-belok, tapi makalah ini faktual, lho. Judulnya "Eksplorasi Motif Tradisional 'Kembang Terate' pada Busana Pengantin Bekasi 'Kembang Gede', karena memang itulah kerjanya di Kria Tekstil--eksplorasi motif. Tapi yang dibahas di sini tidak akan sampai eksplorasi motif segala, judulnya kan Sosialisasi Pengantin Bekasi dan Upacara Adat, thok!
Sumber utama makalah tersebut adalah paper karya Nurhasan Ashari, "Upacara Adat dan Tata Rias Penganten Bekasi", yang menjadi pengantar Seminar & Lokakarya Penggalian Pengantin dan Upacara Adat Pengantin Bekasi, tahun 2004 lalu. Untuk teori pembentukan budaya masyarakat Bekasi diambil dari buku Andi Sopandi, "Profil Budaya Masyarakat di Kota Bekasi". Untuk memperkuat data, untuk teori pembentukan kebudayaan Bekasi pada khususnya, Sunda pada umumnya, diambil dari buku "Sejarah Bogor (bagian I)" karya Saleh Danasasmita.
Edisi revisi makalah ini menjadi pengantar pada acara Pembakuan Pengantin Bekasi Tingkat Kabupaten, diadakan di Balai Rakyat Pemda Kabupaten Bekasi di Delta Mas, Cikarang, pada 5 September 2007 lalu. Rencananya, Pembakuan ini akan diteruskan hingga ke tingkat nasional, dan makalah ini akan disempurnakan untuk diterbitkan dalam bentuk sebuah buku! Doakan ya....... ^v^
Ok, jadi, jangan kaget jika tiba-tiba postingan setelah ini bahasanya berubah. Ini edisi resmi makalah Pengantin Bekasi by Waridah Muthi'ah tentunya... yeeeaaahhh....
Rabu, 26 November 2008
Langganan:
Komentar (Atom)